Review Film Fetih 1453 V.S Buku Muhammad Al-Fatih (karya Felix Y. Siauw)

By | 5/25/2016 08:07:00 PM 1 comment


Review Film Fetih 1453 V.S Buku Muhammad Al-Fatih (karya Felix Y. Siauw)

Assalamualaikum, sobat!
            Pada mulanya penulis ingin meresensi film Fetih 1453, namun karena terlalu banyak kekurangannya, jadi penulis memutuskan untuk mereviewnya aja. Penulis lebih senang melakukan resensi pada hal-hal yang very recommended. Film Fetih 1453 sangat tidak dianjurkan untuk anak di bawah umur 18 tahun dan jangan coba menonton kalau belum membaca buku ulasan sejarah sebenarnya mengenai Muhammad Al-Fatih (Mehmed), salah satunya yang ditulis oleh Felix Y. Siauw.

            Nah, mungkin diantara sobat sudah ada yang mendengar respon kekecewaan dari film produksi Turki tahun 2012 ini. Banyak adegan yang dibuat ala Hollywood berjenis action, martial arts dan vulgar, contohnya setelah mengalahkan armada laut Mehmed, Kaisar Constantine merayakan pesta dengan menampilkan adegan wanita yang sedang menari dengan pakaian transparan. Kaisar Constantine dan para pengikutnya memang tidak menganut syariat Islam, tapi sutradara sebaiknya mempertimbangkan sasaran penontonnya, mayoritas mungkin saudara muslim.
            Secara umum kekurangan film ini akan dibahas sebagai berikut:
1.        Motivasi Mehmed Merebut Kota Konstatinopel
Constatinople
                 Motivasi Mehmed merebut Konstatinopel seakan tergambar seperti ambisi hanya untuk memperluas daerah kekuasaan yang tidak bisa dipijak oleh ayahnya. Narator dalam film hanya menjelaskan bagaimana Mehmed menerima mahkota kembali. Dalam film ini tidak dijelaskan sebab kematian Murad. Padahal kematian Murad sama halnya dengan kematian syuhada terdahulu yang merindukan perdamaian dan pembebasan Konstatinopel. 
Sultan Mehmed mengimami sholat
Keinginan kaum Muslim menguasai Konstatinopel lebih mulia dari hanya sekedar penghargaan, kekuasaan apalagi materi. Bagi kaum Muslim, Konstatinopel adalah penantian 825 tahun dan para syuhada telah menyirami tanah itu dengan darah suci mereka. Penaklukan Konstatinopel adalah momen yang menjadi wadah pembuktian kaum Muslim akan agama yang benar dan pembuktian janji Allah dan Rasul-Nya.” (Siauw, 2013: 4-8)
                 Penulis telah membaca buku-buku yang membawa cerita Muhammad Al-Fatih sebelum mengetahui info film ini. Bagi penulis, seharusnya ada flashback bagaimana Mehmed kecil dibimbing oleh ulama Syaikh Aaq Syamsuddin. Syaikh Syamsuddin selalu meyakini Mehmed bahwa dirinya adalah pemimpin yang dimaksud dalam hadits Rasulullah yang diriwayatkan Ahmad, “Konstatinopel akan takluk di tangan seorang laki-laki maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik tentara adalah tentaranya.”
2.        Banyak Adegan Pemanis
                 Banyaknya adegan pemanis membuat alur sejarah dalam film ini cidera. Bagaimana mungkin salah satu pimpinan pasukan dari pihak Constantine maupun Mehmed, yakni Giustiniani dan Hasan Ulubat terlibat cinta segitiga dengan sosok Era. Kemuculan adegan mesra Hasan yang bermesraan (berkhalwat) dengan Era juga seringkali muncul. Apakah ini benar terjadi dalam sejarah?
Pertemuan pertama Hasan dan Era
                 Padahal tentara pasukan Mehmed merupakan tentara pilihan yang tidak hanya pandai berperang namun juga selalu memelihara diri dari perbuatan maksiat. Sultan selalu mengingatkan bahwa penyerangan ini hanya untuk Allah semata. Tidak ada yang terjadi di perkemahan kaum Muslim kecuali kekhusyukan mereka dalam shalat dan doa, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an mengalir indah dari lisan pasukan dan tentara perang, sementara yang lain berdzikir sambil mengasah pedang ataupun memperbaiki tameng dan zirah mereka. “Ketenangan dan kedisiplinan religious membuat mereka yang menyaksikan dari balik tembok terkesima.”
                 Dalam bab 15 The Promised Victory dikisahkan bahwa di arena pertempuran, keadaan yang tadinya membaik buat pasukan bertahan berubah total dalam waktu beberapa menit. Keberuntungan Giustiniani kali ini telah usai, satu tembakan meriam memecahkan tembok yang berada di dekatnya dan serpihan batu yang pecah menghantam dadanya dan membuat luka parah. Tidak mampu lagi untuk berperang dan lebih karena telah kehilangan nyalinya, Giustiniani dibopong rekannya meminta izin kepada Kaisar untuk mundur. Tentu saja, mati-matian Kaisar menolaknya untuk mundur dalam situasi krisis seperti itu, namun keadaan tidak bisa dipaksa, kemunduran Giustiniani masuk ke kota menimbulkan prasangka buruk di kalangan petarung-petarung Genoa dan juga Venesia. Mereka menganggap bahwa kekalahan telah di depan mata (Siauw, 2013: 250).
                 Pada waktu yang sama, sikap keksatriaan khas kaum Muslim ditunjukkan oleh salah seorang prajurit Utsmani, Hasan Ulubat. Didampingi oleh 30 tentara Yeniseri lain, dia mendobrak pertahanan pasukan bertahan, merangsek ke atas dengan segala upaya yang ia miliki, di tangannya terpasang bendera Utsmani yang akan ia tancapkan segera di atas gerbang St. Romanus. Seorang demi seorang musuh dia hempaskan ke tanah dengan tenaganya yang luar biasa. Dengan penuh perjuangan, kelompok kecil ini sampai di puncak gerbang, luka-luka akibat panah dan sayatan pedang tidak membuat Hasan goyah. Melihat bendera Uysmani berkibar, Sultan segera berteriak pada seluruh pasukannya, “kota itu miliki kita!” (Siauw, 2013: 250).
Gambar terkini Tembok Konstatinopel

Adegan Heroik Hasan menancapkan bendera
                 Nah, terlepas dari kekurangan itu film ini juga ada nilai plusnya kok. Bagian yang paling membuat penulis merinding adalah menyaksikan adegan pemindahan kapal-kapal Utsmani dari jalur darat, hal ini berarti mengangkat kapal-kapal dari Double Columns di selat Bosphorus melewati daratan Galata menuju Valley of Springs di teluk tanduk emas agar bisa mengatasi rantai raksasa. Dengan putus asa, pasukan bertahan menyaksikan 72 kapal turun ke perairan mereka, tanpa bisa berbuat apapun.  
Peta Konstatinopel 1453
Ini merupakan strategi yang terkesan mustahil, namun terjadi hanya pada waktu satu malam 1453. Sungguh brilian!”
Ilustrasi Mehmed memimpin pengangkatan kapan ke jalur darat
 
Ilustrasi dalam film
                 Selain itu adegan dimana kelicikan paus meminta persetujuan  Constantine melakukan unifikasi atau penyatuan Gereja Roma Latin dan Gereja Ortodoks Yunani menunjukkan kebenaran ajaran tauhid yang disampaikan Nabi Isa a.s. Kristen Yunani menganggap unifikasi ini sebagai perusak puritansi Kristen Ortodoks dan menjauhkan perlindungan tuhan dari Konstatinopel.
"Seandainya di langit dan di bumi terdapat beberapa Tuhan selain Allah, niscaya keduanya akan rusak." (Surat al-Anbiya, ayat 22)
"Tidaklah Allah mempunyai anak dan tidak pula ada Tuhan disamping-Nya. (karena jika mempunyai anak dan ada Tuhan selain-Nya), maka masing-masing Tuhan akan membawa ciptaan-Nya sendiri dan sebagian akan lebih unggul dari sebagian yang lainnya." (Surat al-Mukminun, ayat 91)
"Sungguh telah kafir orang-orang yang meyakini, bahwa Tuhan itu adalah al-Masih putera Maryam. Katakanlah,’Maka siapakah yang dapat menahan Allah, jika hendak mematikan al-Masih putera Maryam dan Ibunya atau seluruh yang hidup di muka bumi ini ?" (Surat al-maidah, ayat 17)
"Tiada sesuatupun yang menyerupai-Nya" (Surat asy-Syura, ayat 11)

Demikianlah review film Fetih 1453. Semoga bermanfaat ya.
             
Newer Post Older Post Home

1 comment: