Latest Posts

Showing posts with label article. Show all posts
Showing posts with label article. Show all posts
Salaam, Everyone! With me again, Yunita. Today, I'm going to tell you about the issue "Dating v.s Al Isra; 32" 
First of all, I'd like to tell you about my background. Aku tidak dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mengenal syariat Islam secara mendalam. Tapi, Ayahku selalu mengajarkan kepada kami "Jangan pernah meninggalkan sholat." Pada saat umurku 15 tahun, aku memaksakan diri mendaftar ke Madrasah Aliyah (setara SMA). Sebelum aku bertemu pelajaran fiqih, peraturan paling aneh yang pernah aku dengar adalah "Dilarang Pacaran!". 
"Seriously?! This is not cool!" begitu responku dulu.
Pemikiranku yang demikian tidak terlepas dari pengaruh SMP, aku bebas berdekatan dengan para boys, tidak ada peraturan sekolah yang melarang pacaran. Bahkan pernah seorang guru membuat sistem duduk sebangku, cowok dan cewek. "Kombinasi yang menarik!" katanya. 

Berhasil beradaptasi, peraturan seperti ini tidak lagi menggangguku, mungkin juga bagi teman-teman yang lain, soalnya mereka berpacaran diam-diam. Namun, yang tidak beruntung akan dipanggil guru BP, dalam kasus serius, ada yang sampai dikeluarkan dari sekolah. You know why? Because they did something like hollywood dating style

Sampai aku kelas 12, pertama kali mulai membahas Q.S Al Isra' ayat 32 adalah saat materi "Zina". Masih terbayang dalam ingatanku, pembahasan tentang ini menambah antusiasme kawan-kawan menyimak pelajaran. Namun, selama materi, guru yang bersangkutan tidak terlalu menyinggung hubungan linear antara pacaran dengan perzinahan.

Dalam kelas tertentu, dengan subjek pelajaran berbeda, aku juga menemukan beberapa guru tidak sungkan bergurau perihal si A dikomporin dengan si B. Intinya, semakin naik tingkat (kelas), prohibition atau larangan itu seolah memudar. Entah karena kemampuan negosiasi dari siswa yang caught red handed (ketangkep basah), atau apa, ini tentu butuh analisis mendalam.

Sehingga sampai pada masa titik balik (hijrah pemikiran), dan aku mendapat posisi penting dalam organisasi remaja masjid. Aku pun cukup vocal menyinggung orang berpacaran, dampaknya aku agak dijauhi dan ini mengarahkanku untuk lebih banyak membaca. Tak jarang aku berkeluh kesah kepada Allah 

"Ya Allah, Engkau memerintahkan kepada kami untuk beramr ma'ruf nahi mungkar, tunjukkanlah cara yang tepat, berilah aku ilham."

Akhirnya, aku sampai pada kesimpulan, setiap orang butuh proses untuk berubah. Bukankah wahyu diturunkan secara berangsur-angsur?
Tidak semua orang bisa dilarang pacaran dengan melemparkan dalil naqli, terkadang dia harus mengalami hal-hal traumatis selama berada dalam hubungan itu, sampai dia punya sikap jera. Sepanjang pengamatanku, hubungan ini menghambat produktivitas.
Gak juga, buktinya ada public figure berhijab dan berpacaran, mereka sukses-sukses aja karirnya? 

Come on! Sependek itu kah kamu mengartikan produktifitas?

OKE! Jadi gimana?

Begini, prinsip larangan dalam syariat itu sometimes balik ke orangnya lagi, can you handle your feeling with him/her? dampaknya terhadap kekhusyukan sholat gimana? minimal, cucian piring di rumah lu beresin nggak? lu makin sering baca buku nggak? tanggung jawab lu dalam organisasi? Tugas Akhir? Awww! Begitu produktivitas menurut gue. Well, karena kita tidak cukup sampai di Al Isra' ayat 32 (soalnya secara umum mengatakan "larangan mendekati zina" V.S pemikiran emangnya pacaran itu zina? ini ada hadist 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ وَلاَ تُسَافِرَنَّ امْرَأَةٌ إِلاَّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ ( رواه البخاري)
“Dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw berkhutbah, ia berkata: Jangan sekali-kali seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan kecuali beserta ada mahramnya, dan janganlah seorang perempuan melakukan musafir kecuali beserta ada mahramnya”. (Muttafaq Alaihi)
Rasulullah sudah mewanti-wanti berduaan alias "mojok" sejak 14 abad silam.

Sumpah gue walaupun duduk berdua sama doi, nggak ngapa-ngapain kok. Jangan lebay deh.

Begitu kira2 respon "mereka".

Maka dari itu, kita perlu menumbuhkan sikap pengertian terhadap mereka yang terlanjur berpacaran. Ini tak lepas dari pengaruh globalisasi dan percampuran budaya. Hal ini secara tidak langsung menghilangkan inisiatif untuk mempelajari islam, memahami syariatnya, sehingga berdampak pada lemahnya daya filter terhadap pengaruh negatif. Jika kita salah metode, justru mereka makin menjauh. Disinilah peran kita diawali dengan mendoakannya, merangkulnya, menanamkan hal-hal positif secara bertahap dan kreatif (Q.S An Nahl; 125), dan Allah, Dia tidak pernah putus asa mengarahkan hamba-Nya ke jalan kebaikan.

Mungkin apa yang selama ini kita dapat di sosial media, mengenai penjelasan berpacaran dari ustadz A dan B, perlu pertimbangan jika kita ingin mengeshare (bermodal satu dua menit), ini berkaitan dengan ladang dakwah kita sendiri. Kita perlu pertimbangkan siapa-siapa teman kita di sosial media, tentu dari berbagai kalangan, ada sekedar teman, teman dekat, orang dewasa, kerabat, bahkan non muslim. Jika kembali melihat ke metode Rasulullah, beliau mulai dakwah kepada kerabat kemudian sahabat. Di sosial media (mengingat kalangan yang begitu luas), bagaimana jika aku tawarkan kita sampaikan hal-hal yang tidak beraroma "menjudge" atau kita tampilkan "quotes"? Menarik soal quotes, dianggap lebih sakti untuk beramr ma'ruf nahi mungkar walaupun kadang isinya tidak bertolak belakang dengan wahyu yang ada. (Inilah yang disebut fitrah, manusia sudah dibekali nilai-nilai kebaikan walaupun belum memeluk islam).

Tentu aku tegasin bukan berarti aku melarang Q.S Al Isra' ayat 32 dikumandangkan, justru aku appreciate sama akun2 yang buat video unik tentang dampak pacaran, dan kawan-kawan yang pernah membuat caption panjang tentang pacaran. Di sini aku mengeshare posisi aku yang berada dalam lingkungan orang-orang yang terbiasa pacaran, dan bagaimana peranku agar mereka jangan sampai menganggap dirinya tidak layak, datang dan berbuat baik di masjid.



Yang tak kalah penting adalah kita perlu terus mengevaluasi diri, banyak belajar, tidak merasa sudah baik, sempurna iman, lantas lalai dalam meningkatkan kualitas amal shaleh.

Mari banyak belajar!
            Pekan Kimia adalah ambisi dari sekelompok orang yang disambut baik oleh sekolah-sekolah. Betapa tidak, total hadiah yang dijanjikan mencapai angka 15 juta. Salah satu perlombaan di dalamnya menawarkan hadiah utama senilai 2,5 juta. Jumlah yang cukup bergengsi di tengah persaingan lomba lain, ditambah tingkat seleksi berada dalam taraf provinsi. Sungguh menambah ketenaran bagi sekolah yang bisa menaklukan perlombaan-perlombaan yang disediakan. 
            Aku terlibat pertama kali dalam kepanitiaan ini waktu semester 3-4 tahun 2014. Pada waktu itu, ketua Pekim sempat berganti tanpa ada konfirmasi yang jelas di depan seluruh kepanitiaan. Walaupun tidak berpengaruh banyak dalam kepanitiaan, namun tetap saja hal itu mendatangkan tanda tanya.
            Saat itu aku tidak punya cukup waktu untuk mengejar jawabannya. Aku harus berkutat dengan tugas panitia, boleh dibilang ini kali pertama aku harus begini begitu. Untungnya aku ditemani senior terbaik dalam menyelesaikannya. Bang Suliono dan bang Benny adalah dua dari sekian banyak senior yang melatih kemampuanku.
            Tahun berganti, aku sudah mendapat sinyal akan menjadi panitia pekim 2015. Beberapa pengalaman tidak menyenangkan dalam kepanitian 2014 sempat membuatku menolak mengulurkan tangan kembali. Namun kalimat sihir, kalau bukan kamu yang memperbaiki kesalahan tahun 2014 siapa lagi? membuatku bersedia bergabung dengan syarat mendapat jabatan yang sama. Namun, skenario tidak berjalan sesuai kehendakku.
            Siang itu aku mencoba bernegosiasi untuk mempertahankan keinginanku, namun aku justru dihadapkan pada pilihan,
            “Kalau kau tidak mau pegang jabatan itu? Berati kau jadi ketuanya, dan aku yang pegang jabatan itu!”
            Begitu kira-kira kalimat yang menjatuhkan intelektualku. Aku adalah seorang debater tapi aku tidak bisa membalas kalimat berbisa itu, melumpuhkanku.
            “Ini benar-benar tidak adil!,” protesku.
            Pikiranku sibuk menyalahkan orang-orang yang berbuat seenaknya kepadaku. Pekan Kimia membutuhkan dana hadiah sampai belasan juta, belum lagi dana lain untuk keperluan adminitrasi, transportasi, dll. Itu bisa mendekati angka 50 juta. Aku dihantui rasa takut akan kegagalan. Aku juga teramat khawatir mengenai kuliah yang mungkin berantakan. Segala macam pikiran buruk terus menghantuiku sampai akhirnya aku mencoba berdamai dengan semua itu.
            Aku tidak begitu ingat siapa atau apa yang membuatku belajar untuk banyak berusaha sebelum mengkhawatirkan segala sesuatu, yang terpenting adalah aku mulai menyadari bahwa aku tidak sendirian dalam menghadapi segala tantangan itu.
            Aku mulai segala sesuatu dengan memilih staf yang paling mumpuni, merapikan perkara kalimat dalam mekanisme lomba, sampai menyusun tetek bengek proposal. Entah darimana aku mendapatkan energi itu. Namun ada keinginan dalam diriku bahwa aku harus meninggalkan warisan yang baik untuk kepanitiaan selanjutnya, sebab ini adalah kepanitiaan terakhirku.
            Singkat cerita, kepanitiaan ini berakhir dengan kalimat mutiara dari Nelson Mandella “It Always Seems Impossible Until It’s Done”. Tapi, ternyata ini barulah tangga pertama.
            Berdasarkan pengalaman hidup dan buku-buku yang aku baca, membuat aku makin menyadari kekurangan-kekurangan yang ku sebut sebagai warisan. Ini bukan hanya tentang softfile tapi ideologi yang diturunkan sebagai senior.
            Hari ini tahun 2018 untuk pertama kalinya aku merasa malu mengatakan diri ini yang paling peduli. Aku sempat angkat tangan terhadap kepanitiaan Pekim 2016. Aku menjadi pahlawan kesiangan pada kepanitiaan Pekim 2017. Pada tahun ini, aku menjadi saksi bahwa sikap antipati antara angkatan satu dan lainnya merupakan cerminan dari perilaku turun temurun dari senior sebelumnya, yang seolah-olah membudaya. Begini kira-kira pemikiran-pemikiran yang keliru:
Ini bukan zamanku lagi! Jangan coba-coba menghubungi dan meminta bantuan nyata dariku!
Aku udah ngasi saran, tapi ndak mereka laksanakan. Terserahlah!
            Well, aku tidak mengatakan pemikiran ini cerminan dari seluruh orang yang sedianya bertanggung jawab memperbaiki pekan kimia. Semua ini butuh telaah mendalam, belum lagi setiap orang mempunyai kendala-kendala lain yang terpaksa membuatnya tidak maksimal terlibat. Inilah yang membuatku menghormati style kepedulian dari masing-masing orang berbeda antara satu dan yang lain. Aku tidak lebih baik dari mereka, tapi aku juga pahami bahwa aku berbeda.
Pelatihan Singkat Menuju Acara Puncak Pekan Kimia 2018

            Aku membuka dialog dalam diriku sampai akhirnya menemukan beberapa jawaban kenapa mereka tidak melaksanakan saran yang diberikan oleh senior. Terlepas dari ketidakinisiatifan junior dalam membaca LPJ.
            Pertama, saran yang disampaikan senior sifatnya baik, namun karena disampaikan dengan nada yang salah, terdengar seperti menjudge. Adakah disini ada yang senang dihujat?
            Kedua, bukan mereka tidak mendengarkan saran, tapi mereka bingung melaksanakan saran yang dimaksud.
            Ketiga, mereka mengalami masalah yang kompleks dalam kepanitiaan, namun senior terus memberikan saran tanpa memberikan bantuan nyata. Hal ini justru hanya menambah tekanan.
            Keempat, adanya sikap exclusivisme, kurang membaur antara senior dengan junior membuat mereka tidak terbuka dalam menceritakan masalah kepanitiaan. Sehingga saran dari senior menjadi tidak tepat sasaran.
            Kelima, belum adanya sikap dewasa dalam diri senior sehingga lebih menyalahkan panitia daripada mencoba mengerti kenapa mereka melakukan kesalahan tersebut.
            Itulah beberapa poin yang aku pelajari selama bergabung semampunya dalam kepanitiaan Pekim 2018. Sekaligus aku ingin mendeklarasikan program nutrisi. Apa itu? Seperti yang tadi aku bilang, semua orang punya style kepedulian masing-masing, namun yang bisa semua orang lakukan adalah memberikan support konsumsi bagi kepanitiaan, 20K saja sudah bisa memberi minum seluruh panitia. Bayangkan betapa banyak pengorbanan yang panitia telah lakukan, kerja keras mereka tidak pernah dibalas dengan upah. Dikritik banyak sekolah sudah pasti adanya. Mungkin dengan segelas air mineral beserta biskuit bisa menambah semangat bagi mereka, membuat hati mereka berdesir bahwa masih banyak orang yang mendukung kelencaran pekan kimia untuk tahun berikutnya lagi dan lagi. Semoga dibalik kata selesai, tidak ada kata usai untuk terus menjadi lebih baik.
Pencitraan hehe

        
Pekan Kimia
HeartBeat!




OPTIMALISASI PROGRAM KKBPK
MENURUNKAN LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK, MENINGKATKAN KUALITAS LINGKUNGAN.

Yunita Kusumawardani
nita.letter@gmail.com
Mahasiswa Pendidikan Kimia, FKIP, Universitas Tanjungpura, Indonesia


I. PENDAHULUAN
            Bangsa Indonesia begitu optimis memasuki generasi emas 2045. Pada saat itu kemerdekaan Indonesia mencapai usianya yang ke-100. Pemerintah gencar memberikan instruksi kepada jajarannya untuk merealisasikan generasi emas 29 tahun mendatang, berbagai kebijakan diatur sedemikian rupa guna memperlanncar proses pencapaiannya. Berbagai masalah yang menghadang terus diatasi agar tidak memupuskan harapan kedatangan generasi emas.
            Pertumbuhan penduduk yang kian pesat menjadi masalah serius bagi Indonesia. Pasalnya peningkatan jumlah penduduk berimplikasi pada tuntutan pemenuhan fasilitas hidup yang lebih banyak lagi. Menurut Asisten Deputi Urusan Limbah Domestik (2002) penyediaan kebutuhan seperti sandang dan pangan, perumahan, dan berbagai sarana dan prasarana tersebut berarti mengkonsumsi sumber daya alam lebih banyak. Sehingga eksploitasi terhadap sumber daya alam akan terus terjadi. Disamping itu kegiatan penduduk di dalam melaksanakan pembangunan yang tidak mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan telah pula menyebabkan terjadi kerusakan dan pencemaran, yang berakibat semakin merosotnya kualitas lingkungan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diharapkan dapat memberikan kesejahteraan bagi kehidupan manusia justru membuat masalah lingkungan semakin memprihatinkan.
            Selain menegaskan adanya persoalan, sudah sangat banyak kebijakan untuk mengatasi masalah kependudukan dan lingkungan hidup. Sosialisasi program Kependudukan dan KB Pembangunan Keluarga (KKBPK) oleh BkkBN merupakan salah satu solusi yang sudah diterapkan. Meskipun ada dampak positif, namun program KKBPK belum bisa optimal mengubah pola pikir masyarakat, yakni untuk menempatkan penduduk sebagai modal dasar dan faktor dominan yang harus menjadi titik sentral dalam pembangunan berkelanjutan. Jumlah penduduk yang besar, namun dengan kualitas rendah akan memperlambat tercapainya kondisi yang ideal antara kuantitas dan kualitas penduduk dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan.
            Formulasi permasalahan dalam tulisan ini adalah bagaimana mengoptimalkan program KKBPK tersebut. Apabila melihat realita sekarang ini, pertumbuhan penduduk Indonesia selalu meningkat sepanjang tahun namun tidak dibarengi dengan upaya penyebaran jumlah penduduk secara merata. Pulau Jawa merupakan wilayah yang memiliki populasi penduduk Indonesia paling banyak. Sementara itu, populasi penduduk yang paling sedikit terdapat di wilayah Maluku dan Papua. Oleh karena itu, keberhasilan program KKBPK oleh BkkbN dapat terhambat tanpa adanya koordinasi dan penyamaan kebijakan lintas sektor terhadap permasalahan yang muncul.
II. PERTUMBUHAN & KEPADATAN PENDUDUK INDONESIA
            . Indonesia menduduki peringkat ke empat sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak, setelah pada posisi pertama ditempati Cina, kemudian India, dan Amerika (lampiran 1). Sensus kependudukan mencatat laju pertumbuhan penduduk Indonesia mencapai 1,49% per tahun maka setiap tahunnya akan terjadi pertambahan penduduk sekitar 3,5 juta lebih, bahkan diprediksi pada tahun 2025 jumlah penduduk Indonesia akan menembus angka 300 juta jiwa.
             Jika ditinjau dari luas wialayah yang ada, Indonesia tidak termasuk negara yang padat penduduknya. Pasalnya kepadatan penduduk adalah jumlah penduduk dibandingkan luas wilayah pada suatu tempat, yaitu jumlah penduduk tiap satu km2 atau tiap satu mil. Di anatara negara-negara ASEAN, Singapura merupakan negara yang paling padat penduduknya. Indonesia berada pada urutan ke lima setelah Singapura, Filipina, Vietnam, dan Thailand (lampiran 2).
            Masalah kepadatan penduduk Indonesia adalah adanya persebaran penduduk yang tidak merata antara penduduk yang berada di Jawa dan luar Jawa. Meskipun penduduk Jawa sendiri mengalami angka fertilitas yang rendah, namun konsentrasi penduduk di Jawa masih tetap besar. Hal ini dipicu karena tingkat migrasi yang besar ke pulau Jawa. Selain itu, tingginya arus urbanisasi mendatangkan masalah yang lebih kompleks di daerah perkotaan dibandingkan dengan pedesaan.
III. DAMPAK LINGKUNGAN YANG TERJADI
            Sebagaimana disebutkan di muka bahwa pertambahan penduduk juga berimplikasi pada tuntutan pemenuhan fasilitas hidup yang lebih banyak. Dengan pertambahan jumlah penduduk yang terjadi maka akan mengakibatkan peningkatan konsumsi utuk memenuhi kebutuhan seperti sandang pangan, lahan dan perumahan, perkantoran, sarana transportasi, penyediaan air minum, listrik dan lain sebagainya, sehingga berpengaruh terhadap keseimbangan alam. Berikut ini akan disajikan kasus-kasus yang pernah muncul di wilayah yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi.
A.    Pencemaran Air
            Salah satu indikator air yang tercemar dapat dilihat dari segi fisik, biologi dan kimianya. Dari segi fisik dapat dikenali berdasarkan perubahan warna atau rasa. Kemudian dari segi biologi dapat ditinjau dari kandungan bakteri patogen yang hidup di dalam air. Dari segi kimia dapat dianalis berdasarkan nilai pH, atau kadar logam berat yang terkandung di dalamnya.
            Pencemaran air dapat disebabkan oleh banyak hal, salah satunya yakni aktivitas pabrik yang menghasilkan limbah. Pertambahan penduduk yang mengakibatkan tingginya permintaan akan produksi pertanian, membuat pabrik pupuk berkembang cukup pesat di berbagai wilayah Indonesia. Baru-baru ini muncul berita ditemukan ribuan ton ikan mati di Sungai Musi akibat limbah yang berasal dari Pabrik Pupuk (Selengkapnya dapat dilihat melalui laman http://palembang.tribunnews.com/2016/06/16/sehari-ribuan-ikan-mati-diduga-disebabkan-limbah-perusahaan). 
Gambar 1. Ribuan Ikan Mati di Sungai Musi (Sumber gambar: Tribunnews Palembang)
Tanpa aktivitas pemulihan maka boleh jadi air sungai yang sudah tercemar ini juga mengkontaminasi kesehatan penduduk yang ada di sekitar, mengingat sungai masih dimanfaatkan sebagai sarana untuk mandi dan mencuci.
B.     Pencemaran Tanah
            Pencemaran tanah dapat dipicu dengan hadirnya TPA (landfill) yang beroperasi dengan sistem open dumping. Keretakan pada area dasar penimbunan sampah dapat meresap ke dalam lapisan tanah sehingga menurunkan bahkan menghilangkan kesuburan tanah. Hal ini membawa efek domino bagi ketersediaan air bersih. Pasalnya banyaknya sumber air permukaan (danau, sungai) yang sudah tercemar, membuat penduduk khususnya di daerah perkotaan memanfaatkan air tanah untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya. Air tanah yang ikut terserap logam berat yang berasal dari sampah yang ada di TPA akan masuk ke dalam sumur-sumur galian dan menghantui kesehatan warga.
            Keophousone Phonhalath, peneliti yang berasal dari Universitas Nasional Laos menemukan air limbah yang berasal dari TPA Piyungan yang ada di Yogyakarta sudah mencemari air tanah di sekitarnya (2012). Kandungan logam berat seperti Mn dan Fe pada air tanah berada pada kondisi yang sangat mengkhawatirkan (Selengkapnya dapat dilihat melalui laman http://ugm.ac.id/id/berita/4026-kualitas.air.tanah.sekitar.tpa.piyungan.tercemar.logam.berat.dan.kimia.organik). 
Gambar 2. Ilustrasi Landfill dengan Sistem Operasi Open Dumping (Sumber gambar: Equator.co.id)
C.    Pencemaran Udara
            Pertambahan penduduk yang ditandai dengan makin tingginya aktivitas kesehariannya dapat dijumpai pada jalanan di daerah kota-kota besar yang sesak dipenuhi dengan kendaraan. Emisi yang dihasilkan dari mesin kendaraan telah mengotori udara di daerah perkotaan.
 
Gambar 3. Kemacetan di DKI Jakarta (Sumber Gambar: korannonstop.com)
            Indonesia akan menghadapi permasalahan pencemaran udara yang didominasi oleh emisi kendaraan bermotor, sehingga apabila tidak ada langkah-langkah yang diambil maka kondisi udara perkotaan akan mengalami pencemaran berat. Sebagai akibat pencemaran udara yang terjadi, sebagian telah menyebabkan menurunnya IQ anak-anak akibat meningkatnya konsentrasi Pb. Kementerian Lingkungan Hidup mengungkapkan pada tahun 1990 kerugian akibat menurunnya IQ diperkirakan sebesar Rp. 176 milyar, dan jumlah ini akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang.
IV. PERAN KEPENDUDUKAN DAN KB PEMBANGUNAN KELUARGA (KKBPK)
 
Gambar 4. Logo Badan Kependudukan dan KB Nasional
            Sebagaimana dikutip dalam laman www.bkkbn.go.id, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BkkbN) selaku lembaga pemerintah yang bertanggung jawab dalam upaya pencapaian kinerja di bidang kependudukan dan keluarga berencana telah menyusun Rencana Strategis (Renstra) BkkbN 2015-2019. Kepala BkkbN, Ir.Ambar Rahayu, MNS mengatakan, tahun ini merupakan tahun pertama implementasi Rencana Pembangunan jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Di mana program Kependudukan, KB dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) masuk dalam 9 agenda prioritas pembangunan (Nawacita) pada butir ke-5 yang menyebutkan "Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia  Indonesia."
            Seiring dengan rencana tersebut, sosialisasi mulai dikampanyekan oleh pejabat BkkbN maupun tenaga Penyuluh KB (PKB) atau Petugas Lapangan KB (PLKB). Tidak sampai disitu, program KKBPK diharapkan dapat dilakukan pula secara mandiri oleh masyarakat melalui peranan tokoh formal dan tokoh non formal. Adapun informasi yang diberikan adalah sosialisasi program 4T yaitu terlalu muda menikah, terlalu sering melahirkan, terlalu tua untuk melahirkan dan terlalu banyak anak (4T). 4T tersebut kalau bisa ditekan maka akan menurunkan angka kelahiran sehingga kualitas keluarga akan meningkat serta menjadi keluarga yang sejahtera sesuai dengan amanah UU No. 52 tahun 2009 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga.
Gambar 5. Salah satu aktivitas Penyuluh KB 


            Selain sosialisasi 4T, program ini juga memberikan arahan berupa pendidikan kependudukan yang lebih difokuskan pada siswa di sekolah mulai SD, SLTP hingga SLTA yang mencakup hal-hal yang berkaitan dengan penduduk dan perkembangannya di Indonesia, dampak kependudukan terhadap lingkungan hidup serta  bagaimana mengelola penduduk agar dapat mendukung pembangunan. 
 
V. GAGASAN UNTUK MENGOPTIMALKAN PROGRAM KKBPK DALAM MENINGKATKAN KUALITAS LINGKUNGAN
            Berangkat dari Rencana Pembangunan jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 BkkbN, program KKBPK dikemas sedemikian rupa guna mengatasi masalah laju pertumbuhan penduduk. Namun, program yang dicanangkan tersebut tidak bisa terlaksana tanpa dukungan dan kerja sama dengan mitra kerja mulai dari tingkat pusat hingga daerah. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani membenarkan bahwa tanpa adanya sinergitas antar lembaga dan instansi, maka program-program prioritas pemerintah akan sulit dicapai.
            Adapun solusi yang digagas oleh penulis untuk mengoptimalkan implementasi program KKBPK dalam meningkatkan kualitas lingkungan dipaparkan sebagai berikut:
1.      Mengoptimalkan penggunaan alat kontrasepsi bagi pria. Pengalaman penulis berdiskusi dengan seorang mahasiswa bidan memberikan informasi bahwa selama ini hanya wanita yang terlalu dibebankan dengan penggunaan alat kontrasepsi (pil KB). Tanpa bermaksud mengesampingkan perihal agama, lelaki memiliki kebebasan untuk menikah lebih dari satu kali dan memiliki anak lagi. Maka dari itu penggunaan alat kontrasepsi seperti vasektomi juga perlu ditekankan pada pria, tentunya tanpa menyelewengkan hak-hak yang ada.
 
Gambar 6. Optimalisasi alat kontrasepsi bagi pria (Sumber gambar: www.theplaidzebra.com)
2.      Mengoptimalkan transmigrasi. BkkbN bersama pejabat transmigrasi dapat saling bekerja sama dalam menurunkan laju arus urbanisasi. Penyuluh KB dapat melakukan arahan guna mencegah penduduk desa yang ingin merantau ke kota yang padat penduduknya. Sementara itu, pihak transmigrasi terus berupaya memindahkan warga dari wilayah yang penduduknya padat ke wilayah yang jarang penduduknya dengan tetap memperhatikan prinsip keadilan.
 
Gambar 7. Salah satu slogan transmigrasi (Sumber gambar: singularination.blogspot.com)
3.      Mendukung segala upaya untuk melestarikan alam dan merevitalisasi lingkungan yang rusak. Program KKBPK yang mensosialisasikan dampak kependudukan terhadap masalah lingkungan kepada kaum pelajar dapat melibatkan pembicara yang berasal dari Badan Lingkungan Hidup (BLH), WWF, maupun badan/organisasi yang memiliki visi yang sama untuk menjaga keseimbangan alam. Dengan demikian, diharapkan tumbuh generasi yang cerdas dan bijaksana dalam memanfaatkan sumber daya alam, serta mampu menggunakan teknologi berbasis green chemistry.
Gambar 8. Sustainable World (Sumber gambar: www.thirdecology.com)
            Mengadopsi quote yang berbunyi ”cara berubah itu mulai dari diri sendiri” maka penulis mengajak sobat blogger untuk sama-sama membuka pintu dari gerbang generasi emas 2045, dengan turut serta meminimalisir dampak kependukan terhadap lingkungan mulai dari diri sendiri. Beberapa hal kecil yang dapat kita lakukan diantaranya:
1.      Jangan membuang sampah yang mengandung logam berat (seperti baterai) sembarangan.
2.      Kurangi kebiasaan menggunakan plastik saat berbelanja (membawa kantong belanja sendiri).
3.      Bergabung dengan komunitas peduli lingkungan atau secara aktif dan kreatif memanfaatkan peranan media sosial untuk mewujudkan environmental sustainability, semisal 3R (Reduce, Reuse, and Recycle).
VI. PENUTUP
Salah satu hambatan mewujudkan generasi emas 2045 adalah lajunya pertumbuhan penduduk yang memboncengi masalah lingkungan di Indonesia. Pencemaran air, tanah, dan udara yang sulit tertangani akan menjadi ancaman bagi generasi mendatang Namun sekiranya BkkbN telah mencanangkan program KKBPK untuk menghilangkan ancaman itu. Rencana ini perlu dieksekusi dengan melibatkan dukungan dan kerjasama dari seluruh pihak sehingga diharapkan masalah ini dapat diselesaikan secara tuntas.

DAFTAR LAMPIRAN
 Lampiran 1










Lampiran 2 (Sebaran kepadatan penduduk di wilayah Indonesia)










DAFTAR RUJUKAN
http://news.liputan6.com/read/2174726/harapan-baru-bangkitnya-program-pembangunan-keluarga
http://www.bkkbn.go.id/_layouts/mobile/dispform.aspx?List=9c6767ad-abfe-48e3-9120-af89b76d56f4&View=174a5cf7-357b-4b83-a7ac-be983c5ddb0e&ID=2626
http://pengasih.kulonprogokab.go.id/files/artikel%20kb.pdf
Laporan akhir BkkbN Gorontalo (http://repository.ung.ac.id/get/karyailmiah/330/DAMPAK-PERTUMBUHAN-PENDUDUK-TERHADAP-KONDISI-BIO-FISIK-LINGKUNGAN-DI-GORONTALO.pdf)
Asisten Deputi Urusan Limbah Domestik. 2002. Tekanan Penduduk dan Dampak Terhadap Lingkungan. (seminar). (http://www.bkkbn.go.id/arsip/Documents/Perpustakaan/ALIH%20MEDIA%202012/022/29.%20Tekanan%20Penduduk%20Dan%20Dampak%20Terhadap%20Lingkungan.pdf)
Sudarsono, Agus. 1983. Dampak Pertumbuhan Penduduk dan Masalah Lingkungan Hidup. (Pidato). (http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/lain-lain/drs-agus-sudarsono/PERTUMBUHAN%20PENDUDUK%20DAN%20MASALAH%20LINGKUNGAN%20HIDUP.pdf)