Latest Posts

Showing posts with label Novel. Show all posts
Showing posts with label Novel. Show all posts

4. ASAP
Irwan menarik lengan jaket Mega kuat-kuat, membawanya ke salah satu ruangan yang tidak terkena dampak hujan dari fire sprinkler.
“Irwan! Are you out of your mind?! Kita harus ke lapangan!” berontak Mega yang kebingungan dengan tindakan Irwan.
Irwan menarik ujung depan jilbab Mega, membuatnya makin kesal dan penuh tanda tanya.
“Kuliah satu semester di luar negeri membuatku lebih mengerti prosedur evakuasi, tolol!”
Mega masih mengernyit.
Sudah dua tolol dia lontarkan padaku hari ini
Look! Apakah kau ada melihat lampu mati terlebih dahulu kemudian hidup kembali tadi? Setidaknya jika penyebab kebakaran adalah konsleting, listrik utama akan mati diganti dengan emergency…”
“Tapi bisa aja ini bukan karena konsleting, Irwan sotoy!”
“Jangan potong penjelasan aku dulu, Meg!” Irwan geram ingin menarik ujung jilbab Mega lagi.
“Fire sprinkler hidup di daerah yang terdeteksi asap, apa kau melihat ada asap?”
Mega terdiam segenap dengan mata yang berkedip-kedip, menandakan dia sedang akan menyetujui dugaan yang juga Irwan pikirkan.
“Aku akan memaafkan dua kata tolol yang kau lontarkan pagi ini, Wan. Kau jenius!” pujinya tanpa ragu.
“Baiklah, apa yang selanjutnya akan kita lakukan?” tanya Mega dengan mata berbinar-binar.
“Apa di dalam kepalamu sedang aktif mode dektektif hah? tanya Irwan penuh curiga.
Mega hanya membalas dengan senyum sumringah.
Sahabatnya ini memang tiada duanya
***
Mr. Andre meninggalkan Mr. Dimas menuju ruang control cctv untuk mengecek kembali ada atau tidaknya asap.
“Apa kalian melihat ada asap di dekat ruang amphitheater?” tanyanya kepada petugas.
“Tidak ada, Pak! Sepertinya ada error, kami akan coba tanyakan pada petugas security information.
“Mohon maaf bapak siapa?” tanyanya sesaat baru menyadari bahwa ia tidak mengenal pria yang asal masuk dan bertanya itu.
“Bapak tidak boleh seenaknya masuk ke sini!” katanya memperingatkan Mr. Andre yang sudah mengerti harus melangkah pergi, bukan karena ucapan petugas tadi, melainkan dia mendapati seorang wanita di sudut ruangan yang menatapnya tajam sambil---tersenyum penuh kemenangan.
Image Source : depositphotos

***
Mr. Dimas membuntuti Irwan dan Mega yang kelihatannya juga sadar dengan kesalahan alarm tadi.
Kedua bocah ini memang sesuai dengan apa yang dia pikirkan.
Lugu tapi nekat, pintar tapi ceroboh, mengagumkan sekaligus mengkhawatirkan
Dia berpikir keras sifat mana yang paling menonjol dari dua mahasiswa yang kebetulan bersahabat itu.
“Kau masih saja kelihatan bodoh, Dim!” seorang wanita menghentikan langkah Mr. Dimas.
“Sofi!”
“Berhentilah merekrut anak-anak polos dan buat mahasiswamu fokus mengerjakan proyek penelitian!” tambah wanita itu tanpa memperdulikan Mr. Dimas yang terkejut dengan keberadaanya.
“Apa kau sudah dipecat dari kementrian?” begitu sapaan yang selalu Mr. Dimas lontarkan kala kembali melihat Sofi.
Keduanya langsung berpelukan hangat menandakan sudah lama mereka tidak saling jumpa. Walaupun teknologi memunginkan tidak ada jarak antara yang dekat dengan yang jauh, baik Sofi maupun Mr. Dimas tidak bisa leluasa menggunakan manfaat itu, terlebih Sofi adalah salah satu pejabat kementrian yang sibuk.
Wajah teman yang pernah satu angkatan dengannya itu masih tetap cantik walaupun dark cirles mulai semakin jelas di bawah matanya.
“Apa yang membuatmu kemari, Sofi?” Mr. Dimas mulai membuka percakapan serius mengingat Sofi tidak mungkin membuntutinya tanpa ada hal yang penting.
“Aku yang membuat fire sprinkler itu aktif,” Ujar Sofi tanpa ada nada bersalah.
“Kau tahu aku melakukannya dengan alasan. Suka atau tidak, kau harus terima!” tambahnya.
“Apa maksudmu?” Mr. Dimas perlu penjelasan lebih walaupun dia menghormati keputusan sahabatnya yang pasti penuh dengan pertimbangan.
“Dia ada di sini. Kita harus fokus!”
Suara dering ponsel Mr. Dimas memecah ketegangan di antara mereka berdua.
Andre.
Dia sudah lebih dulu masuk ruang cctv. Aku rasa kita harus mundur sejenak.
Sofi mengisyaratkan kalau mereka berdua harus meninggalkan tempat dan meluruskan semuanya.
Sementara itu, Irwan dan Mega masih penasaran tentang sandiwara dalam seminar hari ini. Mereka sampai teras balkon, melongok ke orang-orang yang sudah berkumpul di lapangan. Para peserta seminar kelihatan jelas begitu tidak nyaman dengan baju mereka yang lembab dan berberapa perlengkapan mereka yang basah.
“Kau hutang budi berlipat ganda padaku hari ini!” kata Irwan sambil tersenyum sombong.
Mega tidak bisa menyela. Dia juga menyadari kebodohannya hari ini.
“Hey, Wan, bagaimana kau tau tentang nama-nama organisasi muslim itu? Aku kira kau tidak pernah tertarik dengan aktivis?!” giliran Mega yang membuat Irwan tersekat.
Aku seharusnya tidak ceroboh bicara tadi!
“Kau selalu menceritakan kontroversi mereka di telingaku, dan beberapa ada yang nyangkut!” jawab Irwan seenaknya.
“Tapi kau kelihatan tidak tenang saat seminar?” Mega masih menyelidik.
“Bukan seminar yang membuatku tidak tenang, tapi posisi duduk kita di barisan tamu VIP, tolol!”
Mega terdiam sejenak menatap Irwan. “Aku masih curiga kau mengetahui lebih banyak hal.”
“Tentu saja! Hari ini terlihat jelas IQ siapa yang lebih tinggi!”
Mega meninggalkan Irwan yang menertawakannya. Irwan senang sekali melihat ekspresi Mega ketika kesal. Irwan akan terus menggoda Mega untuk menyeimbangkan denyut jantungnya yang semakin berdebar. Irwan menyadari betul rasa tertariknya kepada Mega, namun dia harus kembali fokus pada misi yang harus dia tuntaskan.

Notes:
Halo, semua! Ini pertama kalinya aku membuat novel, doain aku ya untuk rajin update hehe

Novel ini berkisah tentang Mega yang mengalami konflik berfikir dalam dirinya. Belakangan ia sering dihinggapi "mengapa" pada berbagai aspek yang ia terima dan rasakan. Irwan yang ternyata punya misi tertentu, selalu menyempatkan diri menemani Mega menyelidiki berbagai hal ganjil. Sementara tanpa mereka sadari, gerak gerik mereka selalu diawasi. 



3
Kamuflase
10 Tahun Lalu
Suatu hari di kelas Kimia Dasar, Dosen yang masih tampan walaupun dibalut usia 50an itu sedang bertanya di depan mahasiswa baru jurusan Teknik Kimia.


            “Apa yang membuat kalian berfikir kimia berbeda dari ilmu lainnya?”
            “Kimia adalah ilmu yang mempelajari tentang molekul dan interaksi-interaksinya, Prof!” seorang mahasiswa yang berkacamata mengawali jawaban atas pertanyaan Prof. Sunyono.
            “Kimia menjadi jembatan untuk Fisika dan Biologi, Prof!” seru lainnya.
            “Dari kimia kita menemukan hormon penyebab cinta dan kasih sayang, Prof! jawab mahasiswa yang duduk di bangku belakang, mengurai ketegangan dalam kelas.
            Prof. Sunyono belum terlihat puas dengan jawaban para mahasiswa itu.
            Jawabannya masih terkesan mekanis, pikirnya.
            “Kimia mampu menjelaskan bahwa 2 ditambah 2 belum tentu 4, Prof.”
            “Bisa kamu jelaskan?” Profesor terlihat tertarik.
            “Begini Prof, dalam konsep reaksi pembatas, 2 molekul ditambah 2 molekul, misalnya 2 gram kalsium ditambah dengan 1 gram gas oksigen tidak serta merta menghasilkan 3 gram kalsium oksida, Prof. Kita perlu mengkonversikan massa ke dalam satuan mol agar didapatkan berapa banyak reaksi yang sebenarnya terjadi, dan apakah ada salah satu reaktan yang tidak habis bereaksi atau bersisa…”
            Rahang Profesor sedikit terangkat dan matanya sedikit menyipit, persis seperti gaya panahan yang tidak ingin tembakannya meleset. Sepanjang karirnya mengajar selama 20 tahun, hanya jawaban ini yang hamper tepat sasaran.
            Akhirnya ada mahasiswa yang benar-benar berfikir.
            “Terimakasih, nak! Jawaban kamu telah menggoyahkan pemikiran orang-orang yang selama ini mencirikan bahwa yang berbau kimia itu abstrak,” katanya.
            “Bahkan pada tahun 1940an,” tambahnya. “Seorang revolusioner pernah berkata ‘boleh jadi matematika lebih abstrak dibanding kimia’, misalnya pada aritmatika 2+2 = 4, maka tiada lagi kita pikirkan bahwa dua itu cuma bilangannya, nomornya, bukan bendanya itu sendiri. Sama halnya dengan hitam, ialah hanya warna barang, bukan barang itu.”
            “Bilangan itu sudah terpisah dari benda dan bisa mewakili semua benda. 2 itu bisa jadi 2 kerbau + 2 telur, kita tahu kalau 2 kerbau + 2 telur, kita tidak akan mendapatkan 4 kerbau atau 4 telur. Yang 4 itu cuma bilangan. Angka itu sendiri sudah abstrak”
            “Bukan maksud saya mengatakan matematika tidak berguna karena terpisah dari benda, tentu kita sadari banyak infrasruktur bisa terbangun karena perkembangan ilmu ini. Lewat penjelasan ini, saya tengah melatih anda cara berfikir,” Profesor meluruskan penjelasannya.
            “Berkuliah tidak serta merta menambah kecerdasan anda jika dalam kepala anda tidak membocongeni ‘mengapa dan bagaimana’ selama menyerap pengetahuan. Ilmu nantinya hanya akan menjadi kumpulan abstraksi tanpa manfaat.”
            Beberapa mahasiswa terlihat saling lirik, ada yang menggaruk kepala. Mungkin berfikir “Bagaimana ceritanya pertanyaan perbedaan ilmu kimia daripada ilmu lain bisa menyerempet ke jawaban semacam ini.”
            Apa otak kami yang sudah terlalu usang?!
            “Untuk kamu,” Profesor menunjuk ke arah mahasiswa yang cukup berhasil menjawab pertanyaannya tadi. “Setelah jam istirahat siang, temui saya di ruangan! Kamu berhak mendapat beasiswa dari Urafofu.”
            Sofi tidak pernah menyangka kalau jawabannya itu telah mengantarkannya terpilih mendapat hibah pribadi dari Prof. Sunyono. Tepuk tangan dan selamat dari teman-teman sekelas membuat euphoria dalam hatinya makin berdentum-dentum, di saat yang sama Profesor beranjak dari kelas tersebut.
***
            Ruangan amphitiater hening seakan ikut ngeri karena deretan pertanyaan tadi. Moderator menjadi canggung terlebih melihat ekspresi Profesor Mansur yang datar namun rahangnya terlihat sedikit menegang.
            Wait, what! Pertanyaan jitu macam apa ini Mega kelabakan sendiri dalam pikirannya.
            “Suka atau tidak inilah faktanya,” Profesor menjelaskan sebelum dipersilahkan oleh moderator. “Pemerintah yang nasionalis-sekuler tidak memilih tokoh Islam yang lebih dulu mengawali perjuangan lewat jalur pendidikan…”
            Suara beep yang khas dan mengganggu tiba-tiba terdengar dari Fire Detector.
            Peserta seminar mulai panik.
            Panitia mulai mepertanyakan, komplain kepada petugas keamanan, mengapa latihan keselamatan dimulai saat ada tamu penting.
            “Kita belum tahu ini latihan, Dek! Petugas lain tengah memeriksa, selama fire sprinkler tidak…”
            Fire sprinkler tiba-tiba aktif, menghujani koridor. Tanpa permisi, petugas masuk ke dalam amphitiater dan mengarahkan orang-orang untuk bergegas ke luar gedung.
            Profesor Mansur dinaikkan ke kursi roda agar bisa lebih cepat dievakuasi.
            Lelucon apalagi ini, gerutu Mr. Dimas.
            “Dim, apa menurutmu ini error system?” kata Mr. Andre mendatangi Mr. Dimas yang tetap berdiam diri.
            System was being hacked. Ada yang berkamuflase dalam gerakan kita. Hari ini mereka berhasil menggagalkan upaya kita!”    
           

Banner seminar sudah terpajang rapi di dinding podium.
            Deislamisasi Sejarah Indonesia. Begitu temanya.
            Mega dan Irwan duduk paling pinggir untuk menghindari pusat perhatian. Mesin pendingin udara seukuran kulkas tepat berada di samping mereka, sengaja diatur sampai 16 derajat celcius.
            “Dingin!” suara gemetar terdengar di belakang mereka, seseorang sedang memeluk tubuhnya sendiri dengan lengan bersilang.
             Mega refleks memencet tombol ke atas untuk menaikkan suhu.
            “Makasih!” ujarnya kepada Mega dengan logat melayu sambas yang kental.
            Mega mengangguk dan melebarkan pandangannya ke seluruh peserta.
            “Pasti ada mereka kan? HMI, KAMMI, HTI?” tanya Irwan dengan pandangan tetap lurus ke depan.
            “Aku kira lebih dari itu, ada KMK!” ucap Mega tidak percaya
            Apa yang mereka lakukan di sini!
            Irwan mulai mengepalkan tangan, turut merasakah aliran adrenalin yang tiba-tiba mengalir ke setiap pembuluh darahnya.
            Ini akan menjadi perang urat saraf!
            Lampu amphitiater mulai dimatikan. hanya menyisakan penerangan di arena podium. Seseorang menaiki mimbar dan mulai membacakan susunan acara.
***
(1 jam sebelum seminar)
            “Kenapa kau tidak bilang padaku ada seminar semacam itu?”
            “Aku kira posternya sudah terpajang di setiap mading kampus, pak!” jawab Dina seadanya.
            “Lalu apa tugasmu sebagai asisten!”
            “Tenanglah, Ndre!” kata Mr. Dimas. “Aku sudah meminta perwakilan KMK hadir.”
            “Apa kau sudah yakin mereka punya wawasan yang cukup?”
            “Sayangnya kau sendiri yang akan memastikannya kali ini. Kau akan duduk di sana sekaligus memberikan kata sambutan.”
            “Aku?” jawab Andre terkejut. “Bukankah kau yang lebih dia kenal?”
            “Aku tidak ingin membuat jantungnya bermasalah. Lagipula dua mahasiswaku perlu mendapat pelajaran hari ini.”
***
            Dosen dan professor yang hadir telah memenuhi kursi depan dan beruntung tidak ada yang mempertanyakan kehadiran dua bocah itu.
            “Acara selanjutnya adalah kata sambutan dari Professor Andre Wijaya. Kepada Professor kami persilahkan,” MC kembali mempersilahkan.
            “Saya ucapkan selamat datang kepada dosen saya, sewaktu masih kuliah di UNPAD. Dosen luar biasa, Professor Ahmad Mansur Suryanegara.” kata Andre setelah menyampaikan salam pembuka.
            “Sewaktu kami masih menjadi mahasiswa yang ‘naĂŻve’, seringkali menjuluki beliau sebagai the living homo sapiens,” Andre terdiam sejenak membiarkan audience tertawa.
            “Homo sapiens…,” kata Andre dengan suara lantang. “Saya lebih senang membahas sejarah nenek moyang manusia mulai dari sini. Walaupun tergolong purba, tapi sudah jelas manusia, terlebih memiliki pikiran cerdas dan bijaksana. Mampu menghasilkan begitu banyak benda-benda kebudayaan. Menciptakan Peradaban. Menghasilkan karya.”
            Andre melanjutkan, “makin ke sini, saya menyadari bahwa julukan itu lebih menyindir kepada kita semua, lantas siapa kita dalam posisi evolusi? Apakah cukup hanya dengan menggunakan gadget, kita dijuluki sebagai manusia modern, keturunan homo sapiens?”
            Andre berhasil menguasai panggung. Menghipnotis penonton.
            “Terlepas dari ciri fisik teori evolusi Darwin, jika hanya melihat dari kemampuan berpikir seorang makhluk…,” Andre memberi penekanan. “Ada dimana kita dalam posisi ini? Homo sapiens kah?” Andre kembali bertanya dengan nada muram.
            Mega merinding mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi itu.
            Martabat kemanusiaannya sedang diuji.
            Andre tersenyum getir menyaksikan kebingungan yang terpasang di wajah generasi muda di depannya.
            “Maaf sudah membawa kaliah terlalu jauh ke jutaan tahun belakang.”
            “Nenek moyang kita,” jelas Andre. ”Merekalah yang berhasil memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.”
            “Untuk menghargai anugerah paling besar dalam diri manusia,” kata Andre sambil menunjuk ke arah kepala. “Professor Ahmad Mansur Suryanegara akan mengajak kalian untuk berpikir dan merenung sejak abad 14,” tutup Andre diakhiri dengan salam.
            Tepuk tangan bergemuruh menyertai langkahnya menuruni podium.
            “Kita perlu dosen seperti ini di kelas Filsafat, Meg!” Andre yang semula tidak antusias kini begitu bersemangat.
            Mega mengakui kecerdasan Professor itu namun dia masih terganggu dengan isu yang mengabarkan Professor Andre adalah seorang liberal.
***
            Professor Mansur sudah duduk di atas sofa yang disiapkan di podium. Di depannya sudah tersaji dua buku hasil karyanya, yang satu memiliki cover berwarna hitam, Api Sejarah Jilid I dan satunya lagi berwarna merah, Api Sejarah Jilid II.
            Dia mengenakan jam tangan kulit di pergelangan sebelah kanan, serta sebuah syall bergradasi merah dan putih menggantung di lehernya. Penampilannya sangat bersahaja. Di usianya yang lebih tua dari negara Indonesia. 74 tahun. Dia masih semangat memberikan ceramah tentang sejarah Indonesia.
            Dia tampil tanpa nada retorika, ritmenya seolah sama seperti ailran air yang mengalir di sungai yang tenang.
            “Ada beberapa pertanyaan sejarah yang sering muncul di bangku sekolah. Kitapun lebih mudah menjawabnya daripada pertanyaan seputar siapa dan tahun berapa. Pertanyaan itu adalah negara apa saja yang pernah menjajah bangsa Indonesia?”
            Mansur mengisyaratkan moderator untuk menjawab.
            “Portugal, Spanyol, Belanda, Inggris, dan Jepang, prof.”
            “Negara-negara itu begitu familiar dalam keseharian kita, bahkan sudah berhasil mengubah image masa lalu menjadi negara maju dan pemain piala dunia,” kata Mansur tanpa mengkonfirmasi lebih dulu kebenaran jawaban.
            Layar proyektor mulai menampilkan luas wilayah negara-negara eropa.
            “Kalau kita perhatikan Belanda yang katanya paling lama menjajah Indonesia, ternyata tidak seluas Jawa Barat. Begitupun Spanyol tidak lebih besar daripada Sumatera, Inggris tidak lebih besar daripada Kalimantan.”
            “Jadi sebenarnya jawaban dari pertanyaan ini adalah tidak ada. Sebab negara tersebut tidak pernah sampai menjajah seluruh nusantara. Katakan saja Portugal hanya berhasil menaklukan Maluku. Itupun tidak seluruhnya, dan kerap kali mendapat perlawanan dari kesultanan.”
            Terlihat banyak audience menganggukkan kepala.
            “Pertanyaan selanjutnya, apa misi yang memboncengi negara-negara eropa untuk menjajah?”
            Gold, Glory, Gospel, Prof!” seorang penonton berseru sebelum diminta.
            “Benar sekali! Pertanyaan penting selanjutnya, siapa yang mengizinkan penjajahan di muka bumi?”

            Layar proyektor berubah menampilkan gambar persebaran penjajahan di Asia.
            Beberapa audience mulai berpandangan satu sama lain.
            Apakah ada yang lebih berkuasa selain pemerintah dari negara penjajah itu sendiri?
            Tanpa belama-lama, Mansur memperjelas “jawabannya tersirat dalam gospel, misi penyebaran agama. Semenjak keruntuhan Granada, melalui perjanjian Tordesillas tahun 1494, Paus Alexander VI telah memberikan komando untuk membangun imperialisme di dunia.”
            Ruangan riuh sejenak.
            “Isi perjanjian Tordesillas sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.”
            “Suka atau tidak inilah kenyataan. Perjanjian tordesillas dipandang sebagai kebijakan yang mampu mengurangi peperangan antar kerajaan katolik dan protestan di Eropa yang terus terjadi selama berabad-abad,” Mansur terdiam sejenak. “Namun justru mendatangkan kepedihan bagi negeri yang terjajah.”
            “Ketidakcocokan antara kerajaan katolik dan protestan pula yag menyebabkan negara Eropa terbagi-bagi. Keduanya jauh dari toleransi. Sedangkan Indonesia tidak terpecah belah, karena menjunjung tinggi toleransi. Nggak percaya, baca buku saya.”
            Kalimat terakhir membuat penonton yang larut dalam kengerian kembali tersenyum.
            “Lantas apa yang sebenarya terjadi selama perjuangan memperebutkan kemerdekaan bangsa Indonesia?”
            “Banyak sekali peran ulama dan santri yang dikaburkan dalam buku sejarah, seolah-olah kerajaan Islam di Nusantara menghilang setelah kehadiran penjajah. Yang tampak hanya perjuangan tokoh yang diberi gelar nasionalis. Padahal perjuangan ini dimulai sejak kehadiran para wali dari dinasi ottoman Turki. Memperjuangkan kesejahteraan dan kemanusiaan di seluruh nusantara. Bahkan batik merupakan peninggalan dari Wali. Ba titik. Berasal dari Bismillah. Batik. Nggak percaya, baca buku saya!”
            Audience tersenyum tanpa bersuara.
            “Bangsa pribumi yang masih menutupi diri dengan mengenakan dedaunan, tidak mungkin diajari lansung membaca kalimat Allah. Para wali mulai mengajari cara berpakaian dengan membuat batik bermotif daun.”
            Mega teringat dengan relief perkembangan zaman yang terukir di dinding depan museum Kalimantan Barat. Dahulu nenek moyang tidak berpakaian, namun kehadiran sultan mampu mengangkat derajat manusia, bahkan menghasilkan barang-barang keterampilan. 
            “Distorsi lainnya…,” kata Mansur memecah keheningan. “Perserikatan Muhammadiyah tidak dianggap sebagai pelopor gerakan pendidikan. Hari Pendidikan Nasional justru jatuh tanggal 2 Mei mengikuti kelahiran ki Hajar Dewantara. Padahal gerakan yang dimotori oleh K.H Ahmad Dahlan itu sudah 10 tahun lebih dulu dari kelahiran ki Hajar Dewantara tahun 1922.”
            “Deislamisasi dan distori sejarah di Indonesia didukung oleh berbagai kepentingan. Namun sudah banyak sejarawan menggambarkan kronologi yang lebih komplit. Hanya soal kecerdasan, kesiapan berpikir yang kompleks, yang akan membuat kalian mulai membaca kebenaran di luar sana.”
            “Baiklah, terimakasih kepada bapak Mansur. Sungguh penjelasan luar biasa, yang mampu menggugah krisis kesadaran sejarah di kalangan kaum pelajar,” kata moderator tanpa menutupi kekagumannya terhadap Professor Mansur.
            “Selanjutnya adalah sesi tanya jawab, kami persilahkan tiga audience untuk bertanya.”
            Cukup banyak audience yang mengacungkan tangan. Moderator terpaksa memilih dari sisi depan, tengah, dan belakang.
            “Mengenai hari pendidikan nasional, Prof. Saya tidak mengerti kenapa Prof menganggap penetapan tanggalnya keliru padahal itu tidak pernah dipermasalahkan sejak pimpinan pertama pemerintahan Indonesia?”
            “Pertanyaan kedua!” Moderatur mempersilahkan audience yang ada di tengah.
            “Ketika prof menyebutkan Paus Alexander VI telah mempelopori imperialisme. Apakah menandakan semua penganut katolik atau protestan bersalah? Apakah mungkin Paus Alexander VI sebenarnya citra buruk yang pernah dialami Kristen, tidak pernah melambangkan dunia Kristen, sama halnya seperti yang terjadi pada dunia Islam selama peristiwa kemunculan mu’tazillah?
            Moderator tak bergeming menyimak pertanyaan kedua. Dia baru menyadari saat audience kedua memperkenalkan diri sebagai Keluarga Mahasiswa Khatolik.
            Dia mempersilahkan pertanyaan terakhir.
            “Menanggapi pernyataan Prof tentang sejarah ditulis menurut kepentingan. Apakah itu berarti prof sendiri kurang objektif dalam menuliskan buku ini?”
            Sangat tajam, anak-anak! Kritik berbalut pertanyaan terhadap Professor Mansur baru saja dimulai, batin Mr. Dimas, menyaksikan seminar dari kejauhan. []

TOO MUCH SPOILERS ALERT!
 Hi, everyone! Assalamu’alaikum.
            Seperti yang aku janjiin di video, review detail dari Origin akan dibahas lewat blog. Kenapa harus lewat blog? bukan, kalimat tanya yang tepat kenapa harus lewat tulisan? jawabannya tentu karena masalah efisiensi dan efektivitas, selain itu tulisan dapat direvisi. Sama halnya seperti sebuah buku, dicetak ulang beberapa kali, belum tentu karena laris namun pasti telah direvisi. Aku juga bertekad untuk mengulas kembali setiap tulisan dalam blog ini agar isinya lebih clear dan bertanggung jawab.
            Origin merupakan novel ketujuh Dan Brown (DB), dengan jarak sekitar 4 tahun setelah Inferno (2013). Kalian bisa membayangkan upaya riset bertahun-tahun DB untuk menyelesaikan Origin. Novel ini berisi sekitar 500 halaman. Bagi kalian yang belum terbiasa baca, jangan beranjak dulu dari postingan ini, soalnya kalian bisa mulai mengenal DB lewat film The Da Vinci Code (2006). Semoga dengan itu memicu minat membaca kalian. Well, memang tidak seajaib itu untuk menumbuhkan minat membaca, namun dalam postingan ini aku juga pengen ajak kalian jalan-jalan ke Spanyol. Yang bener bisa jalan-jalan bermodal baca? Of course ini karena manfaat dari membaca.
            Sejujurnya aku sempat mengalami pesimis menyelesaikan bacaan sejak terbunuhnya Syed Al Fadl (cendekiawan muslim). It feels like “It is not fair!”
            Pada mulanya novel ini mengangkat temuan yang mengguncangkan dari pemuda ahli komputer, Edmond Kirsch. Dia mempersentasikan itu pertama kali di depan tiga pemimpin agama, Uskup Valdespino (Kristen Katolik), Rabi Yehuda Koves (Yahudi), dan Syed Al Fadl (Islam). Presentasinya menyangkut dua pertanyaan misteri yang dianggap tidak bisa dijelaskan melalui science.
            “Darimana asal kita?”
            “Kemana kita akan pergi selanjutnya?”
            Untungnya karena dihantui rasa penasaran, aku memaksakan diri untuk terus membacanya sampai kematian dari Koves menyusul. Sampai disini apakah DB hanya mencoba mengangkat pandangan Kristen terhadap dua pertanyaan ini? jawabannya tidak.
            Origin benar-benar novel yang mencoba menghadirkan pandangan orang modern (intelektual) dalam menjawab dua pertanyaan fundamental ini. Jawaban Edmond akan dua pertanyaan itu disiarkan secara LIVE.
Tayangan langsung dimulai dalam 1 menit 39 detik
Penonton jarak jauh saat ini: 227.501.173
            Edmond telah menghentikan aktivitas dunia. Yups, benar sekali. Sejak bab 90 halaman 425 muncul sensasi seolah-olah aku benar-benar masuk dalam kekacauan yang diciptakan Edmond. Asli, terhipnotis! Bayangin guys, betapa teganya DB buat klimaks hampir di ujung bacaan. Heuheuheu.
            Edmond menjelaskan jawaban dari pertanyaan ini dibantu oleh temuannya berupa E-Wave, komputer canggih yang bisa memprediksi kejadian sampai milyaran tahun ke depan. Memang ini bumbu science fiction, namun terinspirasi dari perkembangan ramalan cuaca sampai prediksi hari ke depan. Ini menggunakan pendekatan tingkat molekul-dibantu dengan hukum fisika berupa termodinamika, gravitasi, konservasi energi, dll. Terlepas akurat atau meleset, aku telah terbiasa mempertimbangkan prediksi cuaca sebelum merencanakan jadwal dan tempat acara. Toh kalaupun hujan, bisa pake mantel yo. Tapi untuk tempat repot juga kalau terlanjur milih outdoor yo. Paham kan maksudku?
            Hasil pekerjaan dari Miller-Uley (1950), mengklaim mereka dapat mengungkap bagaimana kehidupan dimulai, ternyata dinyatakan gagal. Hingga tahun 2007 peneliti mulai menganalisis ulang dan menemukan rangkaian semacam RNA. Oh my God! Aku bacanya sambil istighfar guys, ibaratkan gempa, tauhid gue mengalami goncangan 3 SR.
            Teknologi E-Wave mampu merakit ulang percobaan Miller-Uley dalam bentuk virtual reality, ini sangat kompleks dengan kemungkinan aktivitas alam yang terus bergejolak. Percobaan itu terus bergerak maju, sampai jutaan tahun kemudian dan tebak apa yang akhirnya muncul?
            Nanti dulu guys, kita mundur sejenak.
            Novel ini telah menginformasikan fakta-fakta dunia yang belum pernah aku dengar, seperti adanya parlemen agama-agama dunia, ratusan pemimpin spiritual dan hampir lebih dari 30 agama di dunia berkumpul di suatu lokasi, sekali dalam setahun, menghabiskan waktu seminggu untuk melakukan dialog. Tujuannya untuk membina keharmonisan di antara agama-agama dunia, membangun jembatan di antara berbagai kerohanian, dan merayakan pertemuan semua keyakinan.
            Lalu introduction persentase Edmond mengangkat fakta-fakta mengerikan yang dilakukan atas dasar agama, misalnya Ritual Kuil Grishneshwar (India), dll.
            Edmond meresahkan tindakan yang mengatas namakan agama.
            Selain itu istilah yang cukup asing mulai membanjiri isi kepalaku seperti semantic, agnostic, antis-semitisme, heterodoks, dll. Semua ini gue kira nggak cukup diidentifikasi lewat kamus, perlu disesuaikan dengan konteks dan kondisi yang sedang terjadi saat itu.
            Berkaitan dengan ini, gue potong salah satu kalimat menarik dari Edmond
            “Istilah ‘ateis’ bahkan seharusnya tidak ada. Kita tidak punya istilah bagi orang yang ragu.”
            Tak kalah menarik juga adalah spot-spot megah yang disuguhi DB dalam novel ini seperti Museum Guggenham Bilbao, Jembatan La Salve, Palacio Real Madrid, Restoran Etxanobe, Casa Mila La Pedrera, Gereja Katolik Palmarian, Basilica de la Sagrada Familia, dan masih banyak lagi. Bukan hanya tentang keindahan arsitekturnya tapi makna dan sejarah dibalik pendirian bangunan itu. Amat berfaedah!

Museum Guggenham Bilbao
 
Jembatan La Salve
 
Palacio Real Madrid
 
Restoran Etxanobe
Melirik sejenak cerita lain dalam origin yakni kisah percintaan antara Ambra Vidal dan Pangeran Julian. Btw, ini adalah janjian tempat kencan pertama kali mereka. Haha. Entah mengapa gue ngerasa DB cukup kejam memangkas ceita mereka. Haha. Yaeyalah ini novel mystery bukan romansa, plak!

Jangan salah kaprah dulu guys. Gue bisa semelankolis ini karena kisah cinta mereka ini dilanda kegalauan yang mengancam masa depan kerajaan. Setelah ketergesaan dan kelebayan Julian meramal Ambra di tengah suatu acara LIVE. Demi menjaga kehormatan pangeran itu, Ambra tidak punya pilihan selain menerima. Sepuluh menit setelah kegagalan cara romantisnya itu, mereka berdua berdialog,
"Aku tidak bisa punya anak. Karena infeksi ganas di masa lalu menyebabkan aku.....mandul" kalimat Ambra menggelegar di punggung Pangeran itu.
Jadi guys, masih mau mempertahankan prinsip "Aku mencintaimu, aku tidak peduli dengan masa lalumu." 
This is so heart breaking!
 
Casa Mila La Pedrera (Tampak Samping): Ini merupakan salah satu apartemen tempat tinggal Edmond Kirsch
 
Casa Mila La Pedrera (Tampak Atas)
Basilica De La Sagrada Familia
Tangga Spiral Sagrada (tampak dari Jauh)
Tangga spiral sagrada (tampak dari dekat), cover novel Origin
            Okeh, kita balik ke pembahasan, jadi apa jawaban Edmond atas dua pertanyaan tadi. Jawabannya:
“tidak ada”
“belum bisa dipecahkan
Namun Edmond masih bersikeras untuk membuktikannya secara ilmiah dengan curahan harapan masa depan. Melalui Winston, robot, temuan sekaligus teman diskusinya itu, dia pernah bercerita “Jika dia bisa meyakinkan orang untuk menghormati alam semesta dan hukum fisika yang menciptakan kita, setiap budaya akan memuja kisah Penciptaan yang sama, alih-alih berperang memperjuangkan mitos kuno mana yang paling tepat. Dia yakin bahwa fakta-fakta ilmiah yang bersifat universal dapat menyatukan manusia-menjadi titik penyatuan generasi-generasi masa depan. Sebuah kepercayaan universal yang menyatukan manusia.”
Jadi guys, apa pendapatmu? Kebenaran ada di luar sana. Bacalah!
Untuk mendapatkan artikel dengan pembahasan yang lebih lengkap. Kalian bisa hubungi saya lewat 

email : nita.letter@gmail.com
WA : 089687961483

Terimakasih sudah mampir.